CTD 01 : SEMARANG KALINE BANJIR
Mungkin inilah sepenggal syair lagu jawa yang populer dan tidak asing bagi orang jawa. Rupanya lagu ini benar2 nyata adanya bahwa Kota Semarang memang langganan banjir pada saat ini. Bahkan di musim kemarau pun sering banjir. Tapi banjir bukan karena air hujan, tetapi banjir karena air rob (meluapnya air laut ke darat). Menurut para ahli, daratan di Kota Semarang tiap waktu selalu ambles sedikit demi sedikit. Apa mungkin karena itu ya, hingga daratan di Kota Semarang jadi lebih rendah dari lautnya. Orang yang datang pertama kali ke Kota Semarang mungkin pada awalnya kaget bercampur heran, eh nggak ada hujan nggak ada angin kok jalanan jadi banjir ya?
Tahu tidak, pada musim kemarau saja seperti itu apalagi pada musim penghujan. Wow, di tengah kota (simpang lima) pun bagaikan lautan dadakan. Lautan yang yang dikelilingi oleh bangunan gedung, hotel, dan mall yang megah. Jadi tidak hanya kalinya (sungainya) yang banjir, namun pusat kota pun ikut2an banjir. Malah kali yang disebut2 banjir tersebut tidak sampai meluap dan memuntahkan airnya ke jalanan. Apa mungkin karena sistem drainasenya kurang bagus yach? Apa enaknya sekarang lagu Semarang Kaline Banjir diubah saja menjadi Semarang Kuthone (kotanya) Banjir ya?
Apalagi jalan yang menggunakan nama kali pun ikut2an terkena imbasnya. Yaitu Jalan Kaligawe, jalan utama yang super padat yang menghubungkan Semarang dengan kota2 di bagian timur itu sering tergenang banjir. Tidak banjir saja macet apalagi banjir. Wuh, bisa2 yang lewat di daerah itu darah tingginya bisa kumat. Memang lebih tepat lagi kalau istilah Semarang Kaline Banjir diubah saja menjadi Semarang Kaligawe ne Banjir. Karena Jalan Kaligawe adalah jalan utama di kota Semarang yang sering menjadi langganan banjir. Waduh, sepertinya harus minta ijin sama pencipta lagunya nich, apa mau ya syair yang diciptakannya harus diganti dengan Semarang Kuthone Banjir atau Semarang Kaligawe ne Banjir.
Dan mungkin satu2nya nama daerah di Semarang yang menggunakan nama kali yang tidak terkena imbas banjir adalah Kaliwiru. Mengapa Kaliwiru tidak terkena imbas banjir, karena Kaliwiru terletak di Kota Atas yang letaknya nun jauh tinggi diatas permukaan laut. Bayangkan saja kalau Kaliwiru terkena imbas banjir, mungkin Kota Semarang akan hilang dari Peta dan Pemerintah Kota Semarang harus menciptakan sebuah bahtera raksasa (sebesar bahtera Nabi Nuh) yang hanya boleh mengangkut orang2 yang baik saja. Para Koruptor, Penyuap, Preman, dan Para Penghianat Bangsa dilarang keras untuk naik ke bahtera. Atau bisa saja Kru Bahtera Raksasa mau disuap sehingga Para Koruptor, Penyuap, Preman, dan Para Penghianat Bangsa tersebut bisa dengan mudah dan leluasa naik ke bahtera raksasa tersebut bercampur bersama orang2 baik. Huh dasar, dalam kondisi macam ini saja Para Oknum masih memanfaatkan suap menyuap sebagai senjata pamungkas.
6 komentar:
kampung kali dekat kartini banjir nggak?
Kalo di daerah kartini aman2 saja mas..
terhapus dari peta? wah jangan sampai..kota semarang jangan sampai kaya desa siring di sidoarjo yang terhapus dari peta akibat lumpur lapindo
@icha:
ya jelas enggak lah mbak.. ini hanya suatu perumpamaan saja, he3..
Sama saja Mas. Di Jakarta gak hujan pun sering banjir. Terutama yang dekat laut. istilahnya air pasang. Mulai dari Muara Baru hingga Marunda di Jakarta Utara, sudah langganan banjir.Meski tidak ada hujan setetespun.
Oke semoga sukses
Thx juga mas..
Posting Komentar